Senin, 15 September 2014

Where are you my friend?

Pernahkah kamu dekat dengan seseorang? seorang teman? sangat dekat, tapi akhirnya kalian saling menjauh. Bukan hal yang nyaman sebenarnya. Pengalaman pribadi? yup!
Semua berawal dari 'dia' yang jahil, iseng, usil dan sebagainya. Orang aneh, dengan sifat luar biasa jahil, tapi pintar. Seorang teman yang asyik untuk bertukar pikiran. Seseorang yang menurutku asing, tiba-tiba bisa akrab dan dekat, aneh banget rasanya.Karena menurutku, aku bukan orang yang menarik, menurutku masih banyak teman-teman yang jauh lebih pintar, cantik, dan menarik. Tapi 'dia' mau berteman denganku. Sifatnya yang jahil kadang buat jengkel, tapi masih buat aku tertawa. benar-benaar orang aneh... Kadang jengkel juga, kakiku jadi korban senggolan kakinya, atau gak tasku yang ditarik dengan keras dari belakang, untung aku gak jatuh, pas ditangga lagi! Balas balik, tapi masih kalah. Ya sudah, hahaha...

Kedekatan kami berawal dari sms isengnya yang akhirnya mau membuatku ngobrol dengannya. Kadang 'dia' sebel gara-gara kubalas dengan singakat, padat, dan jutek. Salahnya orang lagi buat laporan disms.. hahaha... Oke, kalau ada waktu senggang aku balas. Sampai para sahabat seneng kepoin dan bajak, tapi kadang 'dia' ngerti kalau itu dibajak. =P
Aku mulai terbuka untuk ngobrol dengannya, lebih tepatnya ngobrol lewat sms. Ada-ada aja... Sifatnya yang kadang menyebalkan mulai aku kenal, oh.. ternyata memang itu caranya untuk dekat dengan teman-teman. Sedikit-sedikit aku mulai mengenalnya. 'Dia' suka ngobrol, baca yang berat-berat mulai bahan kuliah sampai berita yang up to date. Ckck... gaya juga bacaanya, pantes wawasannya luas...

Tapi ada gosip yang beredar dari teman-teman.. *weleh beredar... ada yang bilang dia mendekat karena ada 'rasa'. Mereka bilang sih gitu. Tapi aku gak serius menanggapi, kami ini kan cuma berteman, gak ada yang salah. Menurutku 'dia' juga dekat dengan teman-teman perpempuan seperti 'dia' dekat denganku. Aku gak bermaslah kok berteman dengannya, teman-teman aja yang menurutku mulai berlebihan. Sampai seorang sahabat yang sering sekelompok dengannya mencritakan segala curhatannya tentang aku, sahabatku itu bilang kalau dia memang ada rasa. Aku mengelak, karena menurutku kami cuma berteman, gak lebih. Sampai gosip itu semakin nyaring, tapi aku masih cuek. Mungkin karena dia sering iseng aja jahil, gak lebih. Sempat iseng cari bukti *beuh, kayak detektif! dari internet tentang sikapnya. Ciri-cirinya makin mendekati, perkataan teman-teman yang aku anggap gosip sepertinya menunjukkan yang sebenarnya dan dia berani mendekat, tapi aku memilih menjaga jarak. Sampai aku sempat minta maaf, gara-gara ada aku, dia jadi korban 'gojlokan' teman-teman. *maafkan aku, maafkan aku ya! Tapi 'dia' tetap aja berulah khas cowok, yang jahilah, yang cengar-cengir, godain akulah, kalau duduk bersebelahan pasti nyenggol bahu. Badannya kurus tapi kalau nyenggol kuat bgt! *cowok han, maklum.. kalau dari hasil googling, sebenarnya tanda memberi isyarat! Duh!

Antisipasi aku lakukan, dengan percakapan lewat sms. Aku curhat tentang dia, tapi keorangnya sendiri, hahaha. Mau macing aja, apa dia tau dia yang sebenarnya aku maksud. Aku pernah bertanya dengannya
"gimana kalau orang yang kadang kita takuti bisa membuat kita nyaman?", tanyaku.
"kenapa harus merasa takut? toh, dia bisa buat kamu nyaman? kalau dia bisabuat kamu nyaman jalani aja",jawabnya
kujelaskan padanya maksud pertanyaanku itu, bahwa ada seorang teman dengan segala sifatnya yang kadang membuatku takut, tapi bisa membuatku disampingnya untuk ngobrol dan memang asyik untuk menjadi teman. Teman tersebut sebenanrnya adalah 'dia', aku tahu 'dia' punya karakter yang keras, sepertinya 'dia' menuntut dirinya sendiri. Aku pernah curhat ke mama berhubung beliau bisa 'membaca'. Yang terbaca adalah keras dengan maksud untuk tegas dan tegar, pemarah tapi bisa cepat reda karena memilki sifat banyol *suka bercanda, tapi cepat akrab dengan orang. Itu benar, dan sisi lainnya adalah sifatnya yang baik dan mudah bergaul mulai membuatku nyaman. Duh, malah jadi serba salah... seperti ada dua sisi darinya. Dari percakapan yang berlanjut, aku mulai memberi 'clue' tentang teman yang kumaksud adalah dia dan dia berhasil menebak. Yah... tapi lebih baik jujurkan?

Kadang ada keraguan dengan pertemanan kami. Bagaimana kalau yang dikatakan teman-teman adalah benar? Tandanya sudah jelas, dan mereka mengatakan bahwa memamng benar kalau 'rasa' itu memang benar adanya dan 'dia' mengaku dengan mereka. Mbak Sahabat mulai mengingatkan, jangan terlalu bersikap menjaga jarak dan cuek dengannya, jangan juga benci karena nanti malah kebalikannya. Ng.. mau bagaimana lagi, sedekat-dekatnya dengan teman cowok aku belum pernah sedekat dengan dirinya. Aku sungkan, dan alasan ini pernah kuutarakan kepadanya. 'Dia' memaklumi karena terlihat dari sikapku yang keliatan canggung dan menjaga jarak. Grogi... Malu...
Aku khawatir bila benar yang dikatakan teman-teman, apakah kami tetap bisa berteman seperti ini? atau malah menjauh? Lagi-lagi aku bertanya dengannya...
"bagaimana kalau orang yang kamu suka memintamu menyukai orang lain?', sebuah pertanyaan yang polos dan bikin si mbak sahabat protes dan gregetan kepadaku ketika aku bercerita dengannya soal pertanyaanku, karena menurut mbak akan mematahkan perasaannya...
"aku bakal tetap berkomitmen untuk menunjukkan bahwa aku adalah orang yang memang menyukainya", jawabnya. Mantap, tanpa rasa ragu. Deg! 
Aku pernah bertanya tantang mbak yang 'dia' suka, kalau 'dia' 'berulah', aku akan lapor si mbak! Biar kapok! Dia hanya tertawa... Malah menanyakan kalau-kalau aku cemburu... *eh? aku, bukan siapa-siapa mu loh! ngapain cemburu? Lagi-lagi 'dia' bilang rahasia sambil tertawa..
"aku suka orang itu karena dia berbeda. dia bisa melihat segala kekuranganku disana-sini. orang itulah yang menurutku membuatnya berbeda", katanya
Dia bilang kalau 'dia' suka orang lain, bukan aku, protesku pada mbak sahabat. Setelah kuceritakan semunya dan sampailah pada kesimpulan bahwa dia akan tetap mimilih orang itu, walau orang itu 'meminta'nya menyukai orang lain. Dan si mbak meyakinkan kepadaku bahwa memang akulah orangnya... Aku masih gak percaya. Aku katakan pada mbak sahabat bahwa dia suka orang lain, "Dia suka mbak 'itu'" kataku. Mbak sahabat tetap mengelak, "yang dia maksud mbak 'itu' ya kamu , Mah!"

Bohong kan? Bukan aku yang 'dia' maksudkan?Dia suka sama mbak 'itu'
Aku masih belum percaya

Sampai akhirnya aku percaya... beberapa minggu setelah ultahnya
Untuk kedua kalinya aku pergi berdua, alasannya karena ada yang mau dia bicarakan.Penting dan lebih manusiawi dari pada ngobrol lewat layar hape.. *ada-ada aja... Oke, aku terima tawarannya, mungkin ada yang penting dan darurat. Tapi modusnya traktiran, apa aku disogok ya? Sempat neg-think, tapi dia bilang cuma ngobrol aja kok. Tapi kalau traktiran ultah, ini sudah lewat. Kami ngobrol banyak hal, sampai akhirnya  dengan tenang sambil tersenyum dengan senyum khasnya yang tengil, dia mengatakan 3 kata tersebut, dan membuktikan bahwa apa yang temen-teman katakan benar dan semua yang aku cari selama ini terbukti!
Dia menanyakan bagaimana dengan ku? Malu, tapi harus aku akui semuanya. Kujawab dengan jujur, tapi aku gak bisa menerimanya sebagai pacar dan hanya ingin berteman. Aku katakan bahwa seandainya dia memilih orang lain, aku gak melarang. Aku gak mau PHP (dan hal ini membuat mbak sahabat dkk protes kembali karena bisa membuatnya down serta membuat teman-teman  tahu bahwa aku menolaknya, secara halus). Syukunya, dia menghargai prinsipku. Kami tetap memilih berteman
Sudah ngaku kenapa masih jaga jarak? Karena aku sungkan, dan teman-tema semakin menjadi... Yah...

Ada yang kecewa... *ups! maaf ya teman... Tapi aku takut dengan pacaran. Bukan karena kegagalan bila putus, bukan itu.

Kami masih berteman dan masih saling berkomunikasi. Kadang masalah tersebut terungkit kembali, dan aku menjelaskannya kembali. Kadang aku yang gak sengaja, kadang dia yang mulai duluan. Ada kalanya dalam sebuah pertemanan, komunikasi berjalan lancar dan terkadang 'buntu'. Adakalanya 'dia' ngambek, atau aku yang bete karena jahilnya kumat. Aneh banget pertemanan ini! Tapi aku tetap menjalankannya dan berharap bisa berjalan dengan baik. 

Saat aku mulai nyaman dengan pertemanan ini, akhirnya hal yang aku khawatirkan muncul kembali. Masalah itu kembali terungkit, aku katakan padanya bahwa egois bila aku menahannya  menungguku, sementara aku hanya 'PHP'. Aku gak boleh egois, aku membiarkannya untuk menyukai orang lain. Hal ini pernah membuatnya berkata bahwa dia tahu bahwa apa yang aku lakukan untuk menolaknya secara halus, meski dengan nada bercanda, tapi aku mengerti. Komunikasi berjalan kembali, tapi gak seperti dulu.  Hanya hal-hal penting yang dibahas antara kami berdua, setelah itu tidak ada lagi. Kami hanya sms kalau ada hal-hal yang penting seputar kuliah Obrolan seperti dulu sempat terjadi sekali. Tepat setahun setengah setelah kami akrab, komunikasi malah berkurang dan berhenti. Putus komunikasi. Di kampus malah semakin gak nyaman, serba salah... 

"ada yang bilang bahwa tidak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan,"


Aku jadi ingat perkataanya kalau aku berteman dengannya dan menerimma segala panggilan khasnya untukku karena aku iba, padahal aku mengerti kondisinya dan segala hal tentang dirinya yang pernah 'dia' ceritakan padaku. Apa sejahat itu aku sebagai temanmu? Mungkin aku harus belajar lebih tulus lagi untuk berteman denganmu... hah... :'(
Baiklah, aku akan mundur, biarpun para sahabat memintaku untuk bertahan karena menurut mereka aku bisa mengatasi segala sifat kerasmu. Aku gak tahu mau membantu apa lagi

Yang aku khawatirkan sudah terjadi. Kami mulai menjauh...
Mungkin kamu terlalu lama menungguku, atau aku yang gak bisa membuat semuanya kembali seperti dulu dan tak mampu memahamimu. 
'Dia' berubah, sangat berbeda. Ini bukan 'dia' yang dulu aku kenal, yang bisa membuatku tertawa, bertukar pikiran sehingga aku merasa nyaman saat berteman dengannya.

Kenapa kamu jadi 'kasar'? Mungkin ini cuma perasaanku aja ya?
Tapi kamu berbeda dengan yang aku kenal. Membuatku mulai tak nyaman...
Teman-teman juga mulai mengeluh, kamu yang sekarang sering marah-marah. Kamu juga sangat berbeda.
Apapun yang terjadi, aku doakan yang terbaik untuknya dan semoga Allah selalu membimbingnya agar menjadi seseorang yang lebih baik.

*halah... kenapa jadi sok dramatis? plak! mungkin efek lagu pengiring ngetik?
*efek malam kale.. loh?

Everything has changed...
Where are you my friend?
Why we can't be ourselves like yesterday?

Terima kasih sudah menemaniku sekitar 1,5 tahun. Bebagi tawa dan berbagai cerita serta wawasan.
Semoga kita bisa memperbaiki pertemanan kita seperti dulu =)

Secuil perasaan yang terungkap dari seseorang yang merindukan sosok temannya yang dulu
15/9/2014-16/9/2014 00:00













Tidak ada komentar:

Posting Komentar